About

Atribut Scrollamount di Tag Marquee POKER LASVEGAS
POKER LASVEGAS
POKER LASVEGAS
DOCTYPE html>
Tutorial HTML Bold
Teks menjadi tebal (bold) dengan tag b

Teks menjadi tebal (bold) dengan tag strong

Sabtu, 01 Juni 2019

7 Fakta Kisah Wally Jadi WNI, 42 Tahun Tinggal di Papua hingga Dirikan 7 Sekolah


POKER LAS VEGAS - Wallace Dean Wiley (71) akhirnya mengucap janji untuk setia kepada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada hari Kamis (23/5/2019) di Aula Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) Papua. Hal itu menjadi tanda dirinya tak lagi warga negara Amerika, tapi resmi menjadi warga negara Indonesia. Selama 8 tahun Wally harus menunggu untuk menyandang WNI. Dirinya mengakui, hal itu tak lepas dari dukungan keluarga. Saat ditanya alasan dirinya melepas kewarganegaraan Amerika, Wally pun menjawab singkat, cinta Papua dan Indonesia. Berikut ini fakta lengkap sosok Wally:

1. Kepedulian Wally selama 42 tahun tinggal di Papua



Wally sudah 42 tahun tinggal di Kabupaten Jayapura dan selama 38 tahun berkecimpung di dunia penerbangan melalui MAF Aviation, sebuah perusahaan penerbangan perintis. Dalam 4 tahun terakhir, pria kelahiran 5 April 1948 di Washington State, Washington DC, Amerika Serikat itu, mulai mengabdikan diri untuk pendidikan anak-anak Papua dengan mendirikan Yayasan Papua Harapan. "Dulu saya kepala MAF. Saya frustasi karena kami tidak dapat seorang Papua sebagai pilot atau mekanik. Di situ saya mulai tanya kenapa kami gagal terus dan setelah saya kumpulkan banyak orang untuk bicarakan hal itu akhirnya kami putuskan bahwa itu sebetulnya dalam hal problem solving. Ambil keputusan dengan cepat dan benar dengan memikirkan sesuatu di sini tetapi bisa untuk memecahkan masalah di sana," ujar Wally kepada Kompas.com, Kamis (30/05/2019).

2. Membuka sekolah untuk anak-anak Papua



Bersama dua rekannya, Johannes Oentoro dan James Riyadi, Wally mendirikan Yayasan pelita Harapan. Johannes Oentoro dan James Riyadi disebut Wally berperan penting bagi dirinya ketika membuat keputusan untuk mendirikan sekolah berkualitas di Papua. "Dulu saya sangka mereka akan buka sekolah di sini. Akhirnya saya tunggu-tunggu saya mulai frustasi dan mereka bilang Papua itu terlalu jauh, kenapa pak Wally tidak buka sendiri. Kami akan dukung. Jadi baru saya mulai pikirkan itu," tuturnya. Dari situlah Wally bertekad untuk mendirikan satu sekolah dan kini berkembang menjadi tujuh sekolah yang tersebar di Papua.


0 komentar:

Posting Komentar